GenIndoTech Adalah

News

Market Saham vs Crypto, Cara Kerja, Risiko, dan Peluang di Pasar Modern

Market Saham vs Crypto, Cara Kerja, Risiko, dan Peluang di Pasar Modern

Market Saham vs Crypto, Cara Kerja, Risiko, dan Peluang di Pasar Modern. Sumber : Google

Pasar keuangan modern adalah tempat bertemunya harapan, ketakutan, dan ekspektasi masa depan dalam bentuk angka. Di sana ada pasar saham, pasar obligasi, pasar komoditas, hingga yang paling “baru” dan sering jadi bahan perbincangan: pasar crypto. Semuanya disebut “market”, tetapi cara kerja, risiko, dan logikanya bisa sangat berbeda satu sama lain.

Apa Itu Market dan Pasar Saham?

Dalam konteks keuangan, “market” adalah sistem atau jaringan tempat aset diperdagangkan antara penjual dan pembeli. Di pasar saham, aset yang diperdagangkan adalah saham, yaitu bukti kepemilikan sebagian kecil dari sebuah perusahaan. Pasar saham sendiri bukan satu tempat fisik, melainkan jaringan bursa dan platform yang menghubungkan jutaan order beli dan jual setiap harinya.

Bursa saham seperti New York Stock Exchange (NYSE), Nasdaq, London Stock Exchange, atau Bursa Efek Indonesia adalah “pasar resmi” yang diatur ketat. Perusahaan yang ingin menghimpun dana untuk ekspansi bisa melakukan penawaran umum perdana (IPO), menjual sebagian kepemilikan perusahaan kepada publik melalui bursa. Investor yang membeli saham tersebut kemudian bisa memperjualbelikannya kembali, dan harga saham akan terus berubah mengikuti permintaan dan penawaran di pasar.

Peran pasar saham sangat besar bagi perekonomian. Bursa membantu mengalirkan tabungan masyarakat ke sektor produktif, menjadi sarana perusahaan menggalang modal, menyediakan likuiditas (kemudahan jual-beli), dan menjadi indikator kesehatan ekonomi melalui indeks saham seperti S&P 500, FTSE 100, atau IDX Composite. Pergerakan indeks ini sering dijadikan barometer sentimen investor dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Cara Kerja Pasar Saham dalam Praktik

Di level teknis, pasar saham bekerja lewat sistem order matching. Investor mengirimkan order beli (bid) atau jual (ask) melalui broker atau aplikasi sekuritas. Order-order itu masuk ke order book bursa. Ketika ada harga yang cocok antara pembeli dan penjual, transaksi terjadi dan harga terakhir inilah yang terlihat di layar sebagai “harga pasar”.

Pasar saham punya jam perdagangan tertentu, misalnya hanya buka pada hari kerja dan jam kerja. Ada regulasi ketat terkait keterbukaan informasi, laporan keuangan, insider trading, dan sebagainya. Semua itu dibuat untuk melindungi investor dan menjaga kepercayaan terhadap sistem. Karena sudah matang dan diatur, pasar saham cenderung lebih stabil dibanding pasar yang masih muda seperti crypto, meskipun tetap bisa mengalami volatilitas tinggi saat ada krisis besar.

Lahirnya Pasar Crypto

Berbeda dengan saham yang mewakili kepemilikan perusahaan, cryptocurrency (crypto) adalah aset digital yang hidup di atas teknologi blockchain. Bitcoin, Ethereum, dan ribuan koin lain pada dasarnya adalah data yang diamankan dengan kriptografi dan disimpan di jaringan terdistribusi. Tidak ada kantor pusat, tidak ada CEO yang sama perannya dengan perusahaan biasa, dan tidak ada laporan keuangan tradisional yang bisa dianalisis seperti saham.

Pasar crypto diperdagangkan di crypto exchange seperti Binance, Coinbase, dan berbagai bursa lokal. Tidak seperti bursa saham yang hanya buka di jam tertentu, pasar crypto berjalan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa libur. Siapa pun yang punya akses internet dan akun exchange bisa membeli atau menjual aset crypto hanya dengan beberapa klik.

Perbedaan mendasar lainnya adalah soal “nilai”. Saham punya nilai dasar (intrinsic value) yang bisa dihubungkan dengan aset, pendapatan, dan prospek perusahaan. Di crypto, nilai lebih banyak ditentukan oleh kepercayaan, adopsi, narasi, dan utilitas jaringan, bukan laporan laba-rugi. Hal ini membuat harga crypto jauh lebih sensitif terhadap sentimen dan berita, baik positif maupun negatif.

Perbedaan Kunci antara Pasar Saham dan Pasar Crypto

Kalau dilihat sepintas, layar chart saham dan crypto terlihat sama: ada candlestick, volume, indikator teknikal. Tetapi secara fundamental, keduanya punya karakteristik berbeda. Saham merepresentasikan kepemilikan di perusahaan yang diatur, diawasi, dan wajib menyampaikan laporan rutin. Sebagian saham juga memberikan dividen sebagai pembagian laba. Crypto, di sisi lain, biasanya tidak memberikan dividen; manfaatnya datang dari potensi kenaikan harga, fungsi dalam ekosistem (misalnya untuk staking, membayar gas fee, atau governance), dan narasi teknologi di baliknya.

Dari sisi regulasi, pasar saham sudah berada di bawah pengawasan otoritas, dengan aturan main yang jelas dan perlindungan investor yang relatif kuat. Crypto masih berada di wilayah abu-abu di banyak negara: ada yang dianggap aset, ada yang diperlakukan seperti komoditas, ada yang dibatasi ketat, dan ada pula yang relatif longgar. Hal ini memberi ruang untuk inovasi, tetapi juga membuka risiko lebih besar, termasuk penipuan, manipulasi harga, dan proyek “abal-abal”.

Dari sisi jam perdagangan, saham dibatasi waktu, sedangkan crypto 24/7. Ini memengaruhi psikologi investor. Di saham, pasar “istirahat” di malam hari dan akhir pekan. Di crypto, berita besar bisa keluar kapan saja, dan harga bisa bergerak ekstrem saat kamu tidur.

Risiko dan Volatilitas di Pasar Crypto

Crypto dikenal dengan volatilitasnya yang ekstrem. Harga bisa naik puluhan persen dalam sehari, lalu turun drastis beberapa hari kemudian. Volatilitas ini dipengaruhi banyak faktor: sentimen global, kebijakan regulator, pergerakan investor besar (whale), inovasi teknologi, hingga cuitan tokoh terkenal. Penelitian menunjukkan bahwa guncangan eksternal seperti pandemi pun terbukti meningkatkan volatilitas crypto dan menambah ketidakpastian bagi investor.

Regulasi yang belum seragam di berbagai negara juga menjadi sumber risiko. Di satu sisi, longgarnya aturan bisa mendorong kreativitas dan produk baru. Di sisi lain, hal ini juga meningkatkan risiko kejahatan finansial seperti money laundering, penipuan, dan skema pump-and-dump. Karena itu, banyak lembaga keuangan dan otoritas yang menekankan pentingnya edukasi dan kewaspadaan sebelum masuk ke pasar crypto.

Menariknya, beberapa studi menemukan bahwa banyak investor crypto sadar bahwa risikonya tinggi, namun tetap masuk karena faktor seperti keberanian mengambil risiko, rasa percaya diri berlebihan, dan sikap skeptis terhadap regulator tradisional. Dengan kata lain, kepribadian dan psikologi investor punya peran besar dalam keputusan mereka berspekulasi di aset digital ini.

Jembatan antara Pasar Saham dan Crypto

Seiring waktu, batas antara pasar saham dan pasar crypto mulai menipis. Kita sekarang melihat produk-produk keuangan yang menggabungkan keduanya, misalnya exchange-traded fund (ETF) yang berbasis Bitcoin. Peluncuran spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat pada 2024 menarik banyak investor institusi dan diyakini mengubah struktur partisipan di pasar Bitcoin, membawa lebih banyak pelaku yang “serius” dan terregulasi ke dalam ekosistem crypto.

Selain itu, perusahaan publik yang memegang crypto di neraca mereka, atau perusahaan exchange yang listing di bursa saham, membuat hubungan antara pasar saham dan crypto makin erat. Sentimen di satu sisi bisa menular ke sisi lain, misalnya ketika harga Bitcoin anjlok, saham perusahaan yang sangat terpapar crypto juga ikut tertekan. Di sisi lain, berita positif di pasar saham, seperti masuknya institusi besar ke produk berbasis crypto, bisa memicu euforia di pasar aset digital.

Prinsip Dasar Sebelum Terjun ke Market Apa Pun

Mau masuk ke pasar saham, crypto, atau keduanya, fondasi utamanya sama: pahami dulu apa yang kamu beli. Di saham, kenali bisnis perusahaannya, model pendapatan, utang, kinerja keuangan, dan sektornya. Di crypto, pahami fungsi koin atau token tersebut, teknologi yang dipakai, tim pengembang, ekosistem, dan cara kerjanya. Jangan hanya ikut-ikutan karena FOMO atau karena melihat screenshot portofolio orang lain.

Manajemen risiko juga kunci. Volatilitas di saham masih relatif lebih “jinak” dibanding crypto, tetapi keduanya bisa menyebabkan kerugian besar jika kamu masuk tanpa strategi. Tentukan batas risiko, jangan memakai uang kebutuhan pokok, pahami bahwa ada kemungkinan rugi, dan jangan berutang hanya untuk berspekulasi di market.

Terakhir, selalu ingat bahwa tidak ada aset yang “pasti naik”. Market bisa berubah karena faktor yang tidak kamu kontrol: kebijakan bank sentral, geopolitik, regulasi baru, atau inovasi teknologi yang menggeser tren lama. Itu sebabnya literasi keuangan dan sikap rasional lebih penting daripada sekadar mencari “tips cuan cepat”.

Artikel ini bukan saran investasi, melainkan bahan edukasi agar kamu punya gambaran lebih utuh tentang bagaimana market bekerja, baik di pasar saham maupun pasar crypto. Keputusan akhirnya tetap di tanganmu: riset sendiri, pertimbangkan profil risiko, dan kalau perlu konsultasikan dengan penasihat keuangan yang kompeten sebelum menaruh uang di salah satu atau kedua jenis pasar tersebut.

Author
Gildan

Penulis yang gemar berbagi informasi tentang teknologi dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Fokus pada ulasan gadget, tips digital, serta perkembangan teknologi terbaru untuk membantu pembaca tetap up-to-dat